Talaga (KEMENAG) — Guna mengasah nalar kritis serta meningkatkan keterampilan berkomunikasi peserta didik dalam menganalisis fenomena kemasyarakatan, MAN 1 Majalengka menerapkan model pembelajaran interaktif. Kegiatan KBM Sosiologi berbasis diskusi dan presentasi kelompok pada materi faktor-faktor penyebab perubahan sosial tersebut dilaksanakan di Ruang Kelas XII.6 MAN 1 Majalengka, Senin (14/9/2026).
Rangkaian pembelajaran diawali dengan pemaparan materi dari kelompok pemateri yang beranggotakan delapan siswa: Azma, Fahmi, Fazril, Gadis, M. Rafli, Narita, Raka, dan Ridha. Dengan memanfaatkan media visual berbasis power point melalui proyektor infokus, presentasi dikelola secara profesional melalui pembagian peran moderator, pemateri, dan notulen. Suasana kelas berlangsung dinamis saat para siswa dari kelompok lain aktif mengajukan pertanyaan kritis yang dijawab secara lugas dan argumentatif oleh kelompok penyaji, sebelum diakhiri dengan penguatan konsep oleh guru pendamping.
Penyelenggaraan metode pembelajaran berbasis diskusi terbuka ini dirancang untuk mengubah pola belajar pasif menjadi eksploratif. Melalui simulasi mimbar ilmiah di dalam kelas, para peserta didik dibina agar mampu memahami teori sosiologi secara mendalam, melatih keberanian tampil di depan umum (public speaking), serta membiasakan budaya saling menghargai perbedaan pendapat secara santun.
Guru Mata Pelajaran Sosiologi MAN 1 Majalengka, Tantri Rahmawati Ningrum, S.Pd., menyampaikan bahwa metode ini ditujukan untuk membangun pola pikir analitis siswa terhadap dinamika sosial.
“Metode presentasi dan diskusi interaktif ini kami rancang tidak hanya untuk transfer pengetahuan teoretis, tetapi juga untuk melatih pola pikir dan daya nalar kritis siswa dalam menganalisis fenomena perubahan di masyarakat berdasarkan kacamata sosiologis,” ujar Tantri.
Lebih lanjut, beliau berharap agar keterampilan yang dibentuk melalui diskusi kelas ini menjadi karakter diri peserta didik yang berkelanjutan.
“Melalui penerapan metode ini, saya berharap para siswa tidak sekadar menghafal konsep sosiologi, melainkan benar-benar mengasah kemampuan analisisnya. Semoga keberanian tampil, keterampilan berkomunikasi, serta sikap saling menghargai pendapat ini terus melekat membentuk karakter siswa yang mandiri dan berwawasan luas,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, jajaran pendidik Sosiologi MAN 1 Majalengka akan mengagendakan studi kasus lapangan berbasis proyek (project-based learning) guna menguji kemampuan analisis sosial siswa pada fenomena kemasyarakatan yang nyata.
Melalui penerapan metode pembelajaran interaktif ini, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan keberanian berkomunikasi peserta didik, sekaligus memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan di lingkungan MAN 1 Majalengka.
Kontributor: Wawan Abdul Gani
Sumber: news.kemenagmajalengka.info
Tinggalkan Balasan